LDR Itu Berat Banget | Sebaiknya Jangan Gegabah

LDR itu berat banget

Banyak fakta menunjukkan bahwa LDR itu berat banget, ini konteksnya untuk suami istri ya. Artinya, yang sudah menikah, maka antara suami istri jangan berjauhan secara permanen.

Sebaiknya suami itu harus harus serumah, bahkan boleh sekamar saja jika masih indekost. Tidak harus rumah jika ekonomi belum memungkinkan.

LDR itu Berat Banget, Fakta-fakta Penting Zaman Now

LDR di tulisan ini bagi suami istri ya. Bukan yang masih pacaran. Karena, pacaran pasti melanggar syariat dan berdosa. Maka, jauhilah pacaran. Caranya, dengan melibatkan keluarga dalam mengenal si dia.

Berikut ini fakta lain mengapa LDR itu berat banget bagi pasutri. Fakta-fakta yang akan dibeberkan tim Ngaji Jodoh dan kesimpulan-kesimpulan bagi kamu yang mempertimbangkan menuju jenjang pernikahan.

Fakta 3: Kerja di Perusahaan Asing

Iklim investasi yang makin terbuka, banyak Perusahaan mancanegara yang menanamkan modal di Indonesia. Tentu peluang karir terbuka untuk bergabung di perusahaan asing.

Tentu saja Lokasi perusahaan bisa saja di seluruh Indoensia. Bisa juga kamu ditempatkan di luar kota, luar provinsi, luar pulau atau bahkan di luar negeri.

LDR Itu Berat Banget, Jangan Berjauhan Antara Suami Istri

Jika sudah ijab qabul, perlu dibuat perhitungan cermat akan tinggal dimana sejoli ini.

Kemesraan pasutri dimulai dari kedekatan satu sama lain. Makan di meja yang sama dan tidur di tempat yang sama. LDR itu berat banget.

Fakta 4: Beasiswa pascasarjana di luar negeri

Prestasi karir mulai meroket, biasanya dibarengi dengan peluang studi lanjutan di luar negeri. Jika sudah menikah, maka harus dipertimbangkan mengajak pasangan studi di LN.

Tidak sedikit manten anyer hidup berdua di LN. Yang satu kuliah, sedangkan pasangannya bekerja apa saja yang halal dan legal.

Kisah Nyata, LDR Itu Berat Banget, Baru Nikah Harus Kuliah Lagi Di Australia

Ada kawan penulis, bahwa istrinya studi di Australia. Suaminya pun mencari pekerjaan di negeri Kanguru, jadi kurir.

Jam kerjanya bukan waktu tertentu, tapi sesuai target dan dihitung durasi. Tidak harus mulai kerja pukul sekian. Bisa fleksibel. Yang penting bisa membersamai istri dalam studinya, dalam lapang maupun sempit.

Apalagi saat itu sejoli itu dikaruniai anak selama studi di LN. Alhasil, sang suami harus menjaga anak setelah selesai masa cuti melahirkan. Inilah yang dinamakan kerja sama, saling mengisi.

Dari empat fakta ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa LDR itu berat banget, jangan berjauhan antara suami istri.

Kesimpulan 1: Asal bisa darimana saja, asalkan tinggal bersama setelah menikah

Jangan terlalu risau dengan kota asal (calon) pasanganmu. Bisa dari mana saja, dari seluruh Indonesia. Tidak harus dari kota yang sama.

Yang mutlak harus sama adalah agama dan niat. Kenapa? Karena menikah adalah ibadah, maka tuntunan agamanya harus seiman. Niatnya juga harus sama-sama lurus: niat untuk menjauhi dosa dan berharap pahala dari sabar dan syukur bersama suami/istri masing-masing.

Kesimpulan 2: LDR/LDM permanen bukanlah pilihan

Berjauhan dalam waktu yang lama bukanlah jalur menuju sakinah mawadaah wa rahmah. Karena, pasutri itu harus saling melengkapi dalam keseharian.

Tanpa kehadiran dalam jangka waktu yang lama, pasti ada ruang kosong yang bisa diisi syetan untuk menggelincirkan masing-masing.

LDR itu Berat Banget, Pasutri Makan Semeja Tiap Hari Meski Sederhana

Tak masalah hanya makan nasi dan telur dadar di perantauan, asalkan tetap makan bersama. Hal ini pernah disinggung dalam sebuah adegan dalam Miniseri TV: Mimpi Metropolitan. Si Bambang dan Melani sedang penjajakan menuju hubungan yang serius.

Saat ini keduanya sedang makan mie ayam di pedagang kaki lima. “Maaf ya Mel, kita makan mie ayam gerobak.” Dijawab oleh Melani, “Tak masalah makan Dimana, yang penting makan bareng siapa.”

Jika suami istri makan semeja bersama sehari-hari, tentu itu akan membangun chemistry, apalagi sejak manten anyar.

So, LDR itu berat banget, apalagi sampai berbulan apalagi bertahun-tahun. Pertimbangkanlah secara matang.

Kesimpulan 3: menikah adalah separuh kebaikan agama, separuhnya lagi diisi dengan ketaqwaan pasutri

Misi utama menikah adalah menjaga diri dari dosa syahwat. Sehingga tersalurkan syahwatnya suami istri itu. Dengan demikian, ia makin terjaga kadar agamanya. Nah, untuk merawat pernikahan itu dengan taqwa.

Kata Nabi Miuhammad, “Jika seseorang telah menikah, ia telah menggenapkan setengah agamanya. Maka, hendaknya ia bertaqwa dengan setengah yang lain.” (HR. Baihaqi).

Tanpa melengkapi dengan taqwa, pernikahan akan seperti tanaman pagi yang layu tanpa air dan pupuk.

Semoga dengan hidup berdua di perantauan, akan memelihara kadar agama keduanya. Lantas dipupuk dengan taqwa agar makin subur cintanya.

Kesimpulan 4: Taqwa adalah jalan kebaikan dan kunci membuka rezeki dan solusi hidup

Taqwa itu sikap waspada sebagaimana kita melintasi jalan penuh duri. Tanpa taqwa, pernikahan hanya berioentasi duniawi saja, tanpa mengindahkan halal haram. Ujungnya, makin jauh dari Tuhan.

Padahal, taqwa itu akan membuka berkah Allah dari bumi dan langit. “Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami benar-benar limpahkan keberkahan dari langit dan bumi…” (QS. Al A’raf 96).

Dan perjalanan rumah tangga itu penuh tanggung jawab dan kendala. Sedangkan sikap taqwa mengundang rezeki Allah dan membuka jalan solusi hidup.

“Siapa saja bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka…” (QS. Ath Thalaq2-3).

Kembali ke bagian pertama: Jangan LDR Setelah Menikah

Baca juga: Testimoni Taaruf, Lulusan SMP dan Lulusan Perguruan Tinggi

Foto: pixabay

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *