Ekonomi Bukan Faktor Tunggal Bahagia | Jepang Dan Korsel Takut Berkeluarga

Ekonomi Bukan Faktor Tunggal Bahagia

Ekonomi Bukan Faktor Tunggal Bahagia | Kamu termasuk Single Gen Milenial yang masih khawatir untuk melangkah ke pernikahan?

Kalian termasuk jomblo Gen Z yang sudah mampu mandiri tapi masih takut untuk merencanakan pernikahan?

Ekonomi Bukan Faktor Tunggal Bahagia

Apa yang membuat kalian khawatir? Apakah karena penghasilan hanya cukup untuk hidup sendiri? Apakah merasa belum mapan? Belum punya rumah sendiri, belum punya mobil sendiri? Motor masih cicilan?

Mari kita jujur. Apa yang kamu harapkan dari pernikahan? Apakah makin bahagia? Apakah makin mapan ekonominya?

Ataukah menjaga diri dari seks bebas tanpa nikah? Apakah ingin meraih pahala dari nikah? Mari kita urai satu per satu ya bro & sis.

  1. Apakah kamu berharap mapan sebelum menikah

Apa standar mapan bagi kamu? Apakah punya rumah sendiri? Sebagai orang biasa -bukan anak orang kaya atau anak pejabat- maka dipastikan tak ada bujangan usia 25 sd 29 tahun yang sudah punya rumah sendiri.

Di Indonesia, grafiknya adalah pernikahan lebih dari lima hingga 10 tahun baru bisa punya Tabungan untuk uang muka (UM) KPR. Masih UM lho ya. Masih harus cicil KPR. Itu sudah bagus kalau mau menabung untuk UM KPR.

Apa Standarmu Disebut Mapan?

Ada yang punya strategi lain. Tidak KPR rumah tapi ruko sambil buka usaha. Ada yang bengkel, ada warung, dll. Sejali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ada yang pakai cara lain: beli tanah kavling. Lalu perlahan dibangun sambil nunggu hasil tabungan. Misalnya kamu ada yang punya skill pertukangan, maka ikut mengerjakan karena menghemat biaya tukang.

Ada kerabat yang bisa memasang keramik sendiri, ada yang mampu mengecat, dst. Sehingga rumahnya selesai dalam sekian tahun.

Jadi, kalau masih manten anyar, sah saja kok tinggal di kamar kost bulanan. Jika ada dana cukup, kontrak rumah. Tapi jangan memaksakan, karena kontrak rumah itu cukup mahal di perkotaan.

Ekonomi Bukan Faktor Tunggal Bahagia, Jangan gengsi Jika Masih Merintis

Bukan aib jika kamu di tahun pertama harus kost kok. Jangan mengandalkan tinggal di rumah ortu meski rumah ortu luas.

Bagaimana pun kemandirian itu sebuah ‘kemewahan’ bagi pasutri. Ekonomi bukan faktor tunggal bahagia. Jangan gengsi kalau belum punya sendiri.

  1. Apakah berharap punya mobil sebelum menikah

Zaman sekarang mobil itu bukan prestasi, namun justru itu cost. Dia menjadi pengeluaran jika tidak dioptimalkan. Bila dijadikan usaha seperti taksi online atau disewakan, maka itu jadi income.

Maka, keluarga masih kecil dan kemampuan masih terbatas, jangan memaksakan punya mobil.

Biaya Perawatan dan Harian Sangat Boros Jika Mobil Bensin/solar

Karena, biaya perawatan dan pajaknya tidak murah. Biaya BBM makin mahal sedangkan nilai mobilnya makin turun.

Jangan gengsi untuk mengendarai roda dua. Cukup sewa atau carter saja sesekali jika ada keperluan mendesak. Ekonomi bukan faktor tunggal bahagia. Banyak faktor lain yang harus diperkuat bagi single beriman.

  1. Apakah kamu berharap bahagia dengan menikah?

Wajar saja jika ingin bahagia dengan menikah. Namun, dalam pernikahan tidak selalu mulus rutenya. Suka dan duka silih berganti. Sehat dan sakit merupakan sunnatullah.

Maka, berharaplah berkah kepada Allah sebagai Maha Pemberi. Karena Nabi Muhammad membacakan doa keberkahan kepada pengantin.

Doa Kebaikan Bagi Pengantin Dari Nabi Muhammad

Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoir

Semoga Allah memberkahi engkau dalam lapang dan memberkahi engkau dalam sempit dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan

Berkah itu banyak makna. Yang paling masyhur: bertambahnya kebaikan. Ketika lapang, makin baik akhlaknya dan ibadahnya. Saat sempit, tetap baik ibadah dan akhlaknya.

Ekonomi bukan faktor tunggal Bahagia, Ada yang lebih Penting daripada Bahagia

Jika mendapat nikmat, kamu makin dekat dengan Allah. Itu syukur namanya dan berkah hidupnya.

Bila mendapat musibah, tetap sabar, terus berdoa dan tetap berusaha. Itu pun berkah, karena sabarnya dalam musibah beroleh pahala tanpa batas. (QS. Az Zumar 10).

Jadi, jangan berekspektasi bahagia, tapi berharaplah berkah. Karena, jika menggunakan istilah bahagia lantas ekonominya pas sulit kemudian merasa tidak bahagia. Ini karena salah menempatkan harapan. Ekonomi bukan faktor tunggal Bahagia.

Karena istilah bahagia melekat pada aspek duniawi. Sedangkan berkah itu lebih pada amalan hati. Padahal hidup itu tidak melulu harta, namun ada hati nurani.

Ekonomi Maju Pesat, Jepang & Korsel Justru Takut Menikah, Kan Aneh?

Jika memang harta itu sumber kebahagiaan, mengapa negara ekonominya bagus justru penduduknya enggan menikah? Jepang dan Korsel mengalami resesi seks. Artinya, angka pernikahan makin mengecil dan angka kelahiran lebih kecil daripada angka kematian.

Saat ini Jepang defisit penduduk. Ribuan sekolah dasar mulai tutup karena tak ada lagi murid. Jutaan rumah kosong karena tak ada lagi pewaris di keluarga.

Menyusul Korsel. Angka kelahiran juga terus menurun karena usia produktif enggan menikah dan memilih seks bebas serta child free (tak mau punya anak).

Meski ekonomi negaranya sangat maju, justru mereka menganggap menikah sebagai kekangan dan kehadiran anak dianggap beban berat.

Ekonomi Bukan Faktor Tunggal Bahagia, So Apa faktor lain itu?

Mestinya ekonomi yang mapan menjadikan mereka nyaman dan bahagia. Justru angka bunuh diri termasuk tinggi di Jepang dan Korsel.

Beban kerja dan tuntutan profesi sangat menekan, dan tak ada konsep berkah dalam hidup mereka. Mengapa?

Warga Jepang dan Korsel telah menjauhi agama dan memilih jadi ateis. Sehingga ekonomi mapan bukan jalan menuju keberkahan dan ketenangan jiwa.

Resep Berkah Hanya Bagi Kamu Yang Percaya Dan Mengamalkannya

Hanya dengan iman dan amal shalih saja-lah orang akan memahami hakikat kehidupan. Kaya miskin itu sama-sama ujian.

Menikah itu memelihara syahwat agar tetap suci dan melanjutkan keturunan. Hanya orang tak beriman yang memilih seks tanpa nikah dan child free. Sesungguhnya, banyak pahala dalam pernikahan, yang hanya diyakini oleh mukmin-mukminat.

Tanpa keyakinan terhadap Tuhan, agama dan alam akhirat, maka hidup manusia seperti hewan. Hanya cari makan dan berkembang biak hingga akhir hayat.

Baca juga: Testimoni Taaruf, Cara Allah Mempertemukan Jodoh

Foto: Pixabay

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *