Cara Move On Dalam Islam
Cara move on dalam Islam patut menjadi panduan bagi masyarakat muslim. Takdir Tuhan sudah berlaku pada manusia. Ada senang, ada sedih. Datang nikmat, datang pula musibah.
Ketika musibah datang, manusia merasa sedih bahkan sampai terpuruk. Sering kali manusia termangu dalam sedih dan gelisah.
Padahal, semua itu sudah menjadi ketentuan Allah Swt bahwa setiap kejadian selalu terkandung banyak hikmah. Akankah manusia mangambil pelajaran dari setiap peristiwa?
Cara move on dalam Islam sudah digariskan melalui Al-Quran, hadits Nabi Muhammad dan melalui keteladanan umat yang shalih terdahulu.
Cara move on dalam Islam, cara pertama
Orang Islam harus menyakini bahwa semua yang terjadi di alam semesta -temasuk pada diri manusia- sejatinya sudah ditetapkan Tuhan jauh sebelum penciptaan semesta ini.
Artinya, semua ini sudah dalam rencana Tuhan. Manusia tak usah terpuruk terlalu lama dalam musibah/bencana. Harus segera move on. Karena, bisa jadi Allah punya ganti kenikmatan yang lebih baik.
Cara move on dalam Islam adalah tidak terlalu lama bersedih. Satu dua hari, satu dua bulan harus segera move on. Karena musibah dan kenikmatan sudah direncanakan Allah, yang pasti terjadi.
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al Hadid 23).
Cara kedua
Salah satu makna adanya musibah adalah hamba Tuhan yang manakah yang bisa tabah dan ridha menerima keputusan Tuhan ini. Karena manusia hanyalah diminta tunduk dan patuh kepada aturan Tuhan.
Tuhan ingin tahu siapa saja yang tabah dan mampu bangkit dalam kesulitan/kepahitan hidup. Apakah Anda termasuk orang yang tabah dan ikhlas atas kehilangan/musibah yang menimpa kita. Apakah kita justru mengutuk keadaan bahkan membenci Tuhan?
Ibarat anak sekolah, jika ingin lulus, maka harus lulus dengan nilai yang baik dan taat aturan sekolah. Maka nanti pihak sekolah memberi nilai yang baik dan meluluskan.
Begitu pula Tuhan, yang telah menyiapkan hadiah yang indahnya tak terbayangkan dan kekal abadi. Allah telah menyediakan surga yang luasnya seperti langit dan bumi bagi yang tabah dan taat kepadaNya.
“Apakah engkau mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah (siapa saja) orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran 142).
Jika tidak segera move on, justru kita akan terjebak dalam kesedihan yang panjang, trauma yang tak kunjung sembuh dan bahkan mengutuk keadaan.
Cara move on dalam Islam, cara ketiga
Cara move on bisa dengan meyakini bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua datang silih berganti. Jika hari ini sedih, maka besok bisa jadi gembira.
Jika hari ini Anda gagal/terpuruk, bisa jadi esok Allah siapkan kenikmatan yang lebih baik. Seperti roda berputar.
“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan supaya Allah membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir)…”(QS. Ali Imran 140).
Dan dunia itu singkat. Umur manusia -dari lahir hingga wafat- hanya berdurasi seperti pagi atau sore saja. Gagal dan sukses itu juga sebentar saja. Tak akan lama.
“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An Naziat 46).
Cara keempat
Manusia adalah makhluk tempatnya berbuat salah. Tapi kemuliaan manusia adalah dia mampu mengambil pelajaran kesalahan itu agar tidak terulang lagi. Hal ini yang membedakan manusia dengan hewan, tumbuhan bahkan malaikat.
Jika kita gagal atau terpuruk, segeralah melakukan evaluasi mengapa bisa gagal. Lantas kita mengambil langkah maju untuk memperbaikinya selama hayat masih dikandung badan.
Bahkan para sahabat nabi Muhammad dahulu pernah melakukan khilaf namun mereka memperbaikinya dan menjadi pribadi yang baik di masa berikutnya.
Contohnya adalah Khalid bin Walid. Dia adalah panglima Islam paling hebat di masa Nabi dan di masa Khulafaur rasyidin. Banyak wilayah Arab, Afrika hingga perbatasan Eropa, masuk Islam atas izin Allah dengan panglima hebat ini.
Padahal, ketika Perang Uhud (3 H), Khalid bin Walid adalah musuh kaum muslimin bahkan dia-lah yang memimpin pasukan kafir untuk memukul pasukan Islam. Banyak sahabat mulia gugur termasuk Hamzah, paman Nabi saw.
Namun setelah masuk Islam (6 H), Khalid segera move on dan menjadi pembela Islam terdepan. Bahkan menjadi pahlawan Islam sejak itu.
Cara kelima
Orang sedih biasanya berdiam diri dan menghindari bertemu orang lain. Padahal, obat dari hati yang terluka salah satunya adalah dengan bergaul dengan orang-baik.
Inilah wasiat dari wali songo, bahwa tombo ati ada lima. Bahwa penawar dari hati yang terluka adalah bergaul dengan orang shalih dan meminta nasihat-nasihatnya.
Empat lainnya adalah dengan membaca Al-Quran, berpuasa sunnah, zikir dan shalat malam. Itulah cara-cara move on dalam Islam.
Cara move on dalam Islam, cara keenam
Bahkan Nabi Muhammad saw pun merasakan sedih. Pada tahun 10 kenabian, musibah bertubi-tubi menimpa Nabi saw. Awalnya istri tercinta wafat, tak lama sang paman yang mengantikan peran ayah.
Tahun itu disebut amul huzni (tahun duka cita). Khadijah adalah istri sekaligus pengikut dan donatur utama dakwah Islam. Lalu Abu Thalib, paman yang mengasuh dan melindungi nabi dari intimidasi kafir. Meski tidak beriman hingga wafatnya, Nabi sangat kehilangan paman sosok yang melindungi.
Orang yang sedih dan galau itu biasanya malas beraktivitas. Jadi, stres bahkan depresi. Bagi orang galau, waktu seakan tak berguna lagi.
Saat galau itulah, Allah menurunkan surat Ad Duha. Sebuah surat yang menerangkan betapa pentingnya waktu dan betapa masih banyak sekali nikmat Allah dibandingkan musibah yang menimpa.
Demi waktu duha
Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)
Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) benci padamu
Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang/permulaan
Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karuniaNya kepadamu dan (hati) kamu akan puas (QS. Ad Duha 1-5).
Baca juga: Testimoni Taaruf Ngaji Jodoh, Move on dari Trauma karena Nyaris Batal Nikah Jelang Hari H
Foto: pixabay
