Wanita Lebih Sulit Mendapat Jodoh | Mitos Atau Fakta?
Apakah benar wanita lebih sulit mendapat jodoh? Ini mitos atau fakta? Berikut ini ulasan versi tim Ngaji Jodoh. Boleh percaya, boleh tidak. Masing-masing boleh berargumen.
Apa buktinya wanita lebih sulit mendapat jodoh daripada pria? Kami bahas berdasarkan pengamatan tim Ngaji Jodoh serta pengalaman di tim Ngaji Jodoh.
Fakta Pertama Mengapa Wanita Sulit Mendapat Jodoh
Jumlah wanita peserta taaruf di tim Ngaji Jodoh lebih banyak, antara tiga hingga empat kali jumlah pria. Jika jumlah pria peserta taaruf 10 orang, maka jumlah peserta wanita bisa 25 hingga 35 orang dalam satu periode.
Tentu, peluang wanita untuk bisa berpasangan lebih kecil daripada peluang pria. Namun jodoh, bukan hanya soal statistis. Kalau Allah berkehendak, apa saja bisa terjadi.
Ketika wanita lebih banyak dibanding pria, maka berlaku rumus taaruf:
- Pria berhak memilih
- Tapi wanita berhak menerima atau menolak
Rasio pria vs wanita dalam urusan taaruf memang jomplang. Di forum taaruf lainnya bahkan jauh lebih timpang.
Misalnya Biro Jodoh Rumaysho dot com pernah merilis jumlah peserta kelas pranikah pada 2023 lalu. Kelas pertama: wanita 600 orang, pria hanya 5 orang. Kelas kedua: wanita 200, pria hanya 2 orang.
Fakta Kedua Wanita Lebih Sulit Mendapat Jodoh
Secara fitrah. wanita pasif bersikap pasif. Mereka lebih sering menunggu pinangan, sedangkan pria terkodrat dari Tuhan untuk aktif.
Meskipun, dalam beberapa teladan terbaik, sikap proaktif wanita juga bisa ada dengan cara yang berbeda. Yaitu dengan mengirimkan utusan kepada pria shalih. Utusan ini diperankan oleh walinya, boleh juga diperankan orang lain yang amanah dan arif-bijaksana.
Pernikahan Bunda Khadijah dan Nabi Muhammad saw merupakan teladan terbaik bagaimana pihak wanita proaktif membuka komunikasi lebih awal, dengan melalui utusan yang terpercaya.
Baca juga: Testimoni Taaruf, Lulusan SMP vs Lulusan Perguruan Tinggi
Fakta ketiga
Wanita muslimah masih membutuhkan wali ketika menikah tapi pria tidak. Padahal tidak semua wali itu proaktif menawarkan wanita perwaliannya.
Sejatinya tugas wali itu tidak hanya mengucap ijab saja (saat ijab qabul). Wali bukan hanya formalitas saat akad nikah saja.
Namun wali itu harusnya menjadi pelindung wanita, juga sebagai pengawal dan duta paling utama si wanita di hadapan pria calon suaminya.
Sebaliknya, wali tidak boleh menghalangi wanita perwaliannya saat akan menikah. Jika ada pria shalih -meski tidak kaya atau terpandang- yang serius dan si wanita ada ketertarikan, maka wali tidak boleh memghalangi.
Patokan utama adalah: komitmen si pria dalam beragama dan bertanggung jawab dalam keluarga. Patokan lainnya hanya sebagai supporting saja. Begitu anjuran dari Nabi Rasulullah saw.
Fakta Keempat
Di zaman yang serba terbuka ini, pria dan wanita punya kesempatan yang sama dalam pendidikan dan karir. Ketika sudah sibuk dengan karir dan studi, banyak wanita larut dengan kesibukannya itu. Sehingga urusan perjodohan menjadi terabaikan.
Ketika di usia yang sama, para pria lebih mendahulukan menikah karena demi menjaga kesucian diri. Bahwa menikah harus menjadi lingkungan suci dan legal dalam menyalurkan hasrat seksual.
Karena, pria adalah makhluk yang spontan. Sehingga butuh segera disalurkan, meski kondisi ekonominya masih taraf merintis. Argumennya: ekonomi masih bisa dibangun bertahap, sedangkan hasrat seksual tidak bisa ditunda lagi.
Sebaliknya, secara kodrati wanita lebih pemalu dan lebih mampu menahan diri. Sehingga masih bisa bertahan dalam kesendirian dan sibuk mengurus karir+studi ketimbang menikah.
Baca juga: Testimoni Taaruf, Cara Allah Mempertemukan Jodoh
Fakta kelima
Kehidupan modern tidak selalu memudahkan. Banyaknya informasi justru membuat kita memasang standar lebih tinggi daripada yang wajar.
Standar kekayaan, kemapanan, tingkat pendidikan atau standar materi lainnya banyak tercampur dalam urusan perjodohan. Ini bisa menjadi sebab mengapa wanita sulit mendapat jodoh.
Seakan kita lupa bahwa yang kita paling butuhkan dalam perjodohan adalah: kriteria (calon) suami yang bikin nikah jadi awet sampai akhir hayat.
Apa saja sifat dan karakter pria yang membuat istri tetap sayang dalam suka dan duka. Itu harusnya yang dibuat standarnya.
Fakta keenam
Kini kaum muda usia 20an dan 30an tahun tidak menjadikan nikah sebagai prioritas utama. Sehingga mereka lebih memilih pacaran, dianggap bebas dan tanpa beban.
Buktinya, angka pernikahan dari tahun ke tahun menurun antara 2014-2023, berkisar 10 hingga 29 persen per tahun. Padahal penduduk Indonesia naik 1,09 persen dalam kurun 2020-2025.
Bukti lainnya antara lain masih banyak konten medsos tentang aktivitas/candaan orang pacaran. Padahal, angka pernikahan justru menurun dari tahun ke tahun.
Ketika pemahaman Islam makin baik, wanita memilih untuk tidak pacaran. Mereka ambil pilihan: lebih baik tetap sendiri daripada hubungan tidak halal, hingga tiba saatnya untuk mendapat pasangan sah.
Baca juga: Testimoni taaruf, Pernah Trauma Rencana Gagal Total Jelang Nikah
Fakta ketujuh, Wanita Lebih Sulit Mendapat Jodoh
Informasi makin massif dengan medsos. Berita-berita perceraian pun membanjiri medsos. Kabar konflik pasutri mudah menyebar. Bisa jadi ini jadi trauma. Tidak sedikit lajang yang trauma dengan perceraian ayah ibunya.
Di sisi lain, sejumlah janda enggan menikah lagi. Bisa karena trauma perceraian sebelumnya atau masih larut dalam kesendirian karena suaminya wafat sedangkan ia belum lepas dari keindahan masa lalunya.
Fakta kedelapan
Sejumlah wanita merasa kurang percaya diri dalam memulai sebuah komunikasi perjodohan. Ada yang karena merasa penampilan tidak menarik. Ada yang tidak
Atau memang sejak kecil hingga dewasa biasa komunikasi dengan pria, misalnya sejak kecil sekolah di pesantren khusus putri dan dewasanya hanya punya circle sesama wanita. Kalaupun punya kenalan pria, namun membatasi diri membahas perjodohan.
Fakta kesembilan
Kondisi makro sering kali mengakibatkan rasio jumlah pria dan wanita sangat timpang. Fakta terbaru, pandemi/wabah covid-19. Menurut data, 80 persen korban meninggal dunia dari kalangan tenaga kesehatan (nakes) akibat virus corona adalah pria.
Belum lagi ketika terjadi perang seperti di Gaza atau Ukraina, para pria wajib angkat senjata dan gugur di medan tempur. Inilah salah satu sebab mengapa jumlah wanita bisa lebih banyak daripada pria. Sehingga, wanita lebih sulit mendapat jodoh.
Baca juga: Testimoni Taaruf, Anggota Geng Punk Ikut Taaruf
Foto: Pixabay
