Memantaskan Diri Untuk Jodoh | Sudahkah Kamu Pantas?
Memantaskan diri untuk jodoh jadi challenge bagi kaum single. Apakah diri ini sudah pantas untuk diterima si dia menjadi pasangan halalnya?
Cara apa saja agar diri ini pantas bersanding hidup dengan dia dalam ikatan pernikahan yang suci. Mari kita ulas sedikit tentang cara memantaskan diri untuk jodoh yang baik.
Memantaskan Diri Untuk Jodoh, Cara Pertama
Siap kosongkan gelas Anda. Maksudnya adalah kita mempersiapkan diri untuk menerima nasihat dari orang lain yang lebih senior dan lebih berilmu dalam hal pernikahan.
Agar pengalaman dari senior menjadi bekal. Kita isi gelas kita dengan maotivasi dari orang lain yang lebih bijak.
Jangan merasa sudah tahu banyak dari medsos sehingga enggan mengambil nasihat dari para senior dan para alim ulama. Konten dri medsos bisa untuk tambahan pengetahuan namun bukan jadi rujukan utama.
Baca juga: Testimoni Ngaji Jodoh, Anak Punk Ikut Taaruf
Cara Kedua
Akan sangat baik jika kita membuka diri dari circle yang lebih baik. Bukan hanya terkurung dalam kelompok yang tidak berdampak ilmu dan motivasi positif.
Seringkali para single tidak mau beranjak dari circle yang toxic. Padahal dia sudah bertekad kuat untuk menikah.
Karena, menikah itu butuh suplai semangat dan suplai ilmu yang memadai. Agar nanti menapaki perjalanan rumah tangga penuh dengan suplai kebaikan.
Jangan korbankan masa depan kita hanya demi solidaritas yang tidak worth it. Boleh bergaul dengan siapa saja, namun untuk support system, carilah circle yang positif.
Memantaskan Diri Untuk Jodoh, Cara ketiga
Menikah adalah salah satu bentuk ibadah. Maka, ibadah yang lain harus dikuatkan. Menambah jumlah, dan kemudian memperbaiki kualitasnya secara bertahap.
Hubungan dengan Allah makin hari makin baik. Tidak minimalis. Shalat wajib ditambah shalat sunnah rawatib. Membaca Al-Qur’an dengan rutin dan aktif ikut kajian rutin.
Taqwa adalah menjalankan kewajiban dan menjauhi segenap larangan. Karena taqwa adalah sumber energi pernikahan. Tanpa taqwa, pernikahan hanya diisi dengan hal sia-sia dan mudah roboh.
Nabi Muhammad saw menjelaskan, “Menikah itu separuh agama. Siapa saja yang menikah, dia telah menempuh separuh dari agamanya. Maka, hendaknya dia bertaqwa untuk separuh sisanya.”
Baca juga: Testimoni taaruf Ngaji Jodoh, Cara Allah Mempertemukan Jodoh
Cara Keempat
Isi pernikahan itu adalah tolong-menolong antara pasutri dan anggota keluarga di dalamnya. Cara memantaskan diri untuk jodoh adalah bahwa kita bisa diandalkan orang terdekat.
Eksistensi kita menjadi support system bagi keluarga dekat. Sebelum menikah, diri kitab isa diandalkan oleh ayah ibu kakak adik dan masyarakat terdekat.
Sehingga ketika menikah kelak, kita bisa diandalkan istri/suami dalam banyak kebutuhan keluarga. Tanpa peran aktif kita, maka kita belum pantas dijadikan andalan istri/suami bahkan oleh keluarga mertua nantinya.
Memantaskan diri untuk jodoh, Cara kelima
Menikah itu ibadah paling lama. Harapannya bisa seumur hidup. Jika kita sudah pantas dijadikan teladan kebaikan, maka kita pantas menikah. Karena kebiasaan baik itulah nantinya menjadi bekal pendidikan bagi keluarga kita.
Mulailah mengikis kebiasaan buruk, seperti merokok, begadang, atau main game semalaman. Mulailah kebiasaan baik meskipun sedikit, yang penting rutin tiap hari. Misalnya membaca Al-Qur’an tiap hari meski dua halaman. Atau shalat duha, ikut majelis taklim, dst.
Baca juga: Testimoni taaruf ngaji jodoh, Pernah Trauma Nyaris Batal Nikah Jelang Lamaran
Foto: pixabay
