Banyak Konten Pacaran Tapi Penikahan Justru Menurun

Banyak Konten Pacaran Tapi Penikahan Justru Menurun

Banyak Konten Pacaran Tapi Penikahan Justru Menurun | Ketika scroll YouTube Short, beberapa kali terlewati konten ringkasan dari kumpulan kelucuan dan situasi random antara pasangan yang masih pacaran.

Misalnya, awalnya mereka ngobrol bebas lalu membahas mantan pacarnya masing-masing sehingga membuat si cewek ngambek. Padahal awalnya bercanda akhirnya jadi serius dan cemberut.

Konten Random Orang Pacaran Bersliweran

Ada pula ranking beberapa video pendek tentang si cewek ngambek dan enggan naik motor/mobil. Si cowok dengan sabar membuntuti dari belakang dengan kendaraannya.

Juga ada video koleksi yang diringkas saat sejoli pacaran yang sedang makan di resto/warung, baru beberapa detik ternyata si cowok sudah menghabiskan sampai ludes. Padahal si cewek baru satu dua suapan.

Dan masih banyak video random lainnya yang berisi pernak-pernik pacaran. Bisa jadi begitu juga di TikTok, Instagram atau Facebook.

Padahal pacaran itu bertentangan dengan kaidah agama. Islam melarang pria dan wanita (bukan mahram) berduaan.

Baca juga: Testimoni, Cara Allah mempertemukan jodoh

Banyak Konten Pacaran Tapi Penikahan Justru Menurun | Awas Dosa Besar Pacaran

Berduaan antara pria dan wanita (yang bukan mahram) termasuk dosa besar dan harus dijauhi.

Pacaran sama saja dengan mendekati zina. Mendekat saja dilarang, agar jangan sampai berbuat.

Di sisi lain, angka pernikahan di Indonesia makin menurun dari tahun ke tahun. Data pernikahan 2023 tercatat paling rendah dalam satu dekade terakhir. Banyak konten pacaran, tapi penikahan justru menurun.

Angka Pernikahan Menurun Padahal Penduduk RI Bertambah

Menurut data BPS 2024, angka pernikahan pada 2023 tercatat 1,4 juta. Sedangkan 2022 tercatat 1,577 juta pasangan menikah, berarti turun 128 ribu.

Dalam sepuluh tahun terakhir, angka ini penurunan paling rendah yaitu 29 persen atau menyusut 632.791 (sumber). Padahal jumlah penduduk RI pada 2025 mengalami kenaikan 1,09 persen dibandingkan 2020 lalu (sumber).

Banyak konten pacaran tapi penikahan justru menurun. Apa saja penyebab menurunnya semangat untuk menikah? Mari kita bahas di tulisan ini.

Banyak konten pacaran tapi penikahan justru menurun | Alasan Pertama

Niat menikah di kalangan milenial dan gen Z mengalami pergeseran. Generasi sebelumnya menilai pernikahan sebagai bentuk permulaan bagi kehidupan dan selalu membawa harapan baik.

Generasi Baby Boomer (1946-1964) dan Gen X (1965-1980) menjadikan pernikahan sebagai langkah awal menuju kehidupan baru yang penuh harapan.

Sehingga mereka bersemangat untuk menikah agar segera menapaki masa depan dengan pasangan tercinta. Apapun kondisinya, pasutri di dua generasi ini berusaha menggapai cita-cita.

Banyak orang dari generasi ini menjadi tokoh teladan dalam bisnis dan karir yang digapai dalam masa pernikahan. Sebut saja Habibie-Ainun, SBY-Ani, Ustadz Jefry Al Buchori, dll.

Sedangkan Gen Y atau milienial (1981-1996) dan gen Z (1997-2012) menganggap pernikahan adalah beban. Menikah dinilai sebagai titik pemberhentian dari petualangan hidup. Akibatnya, mereka tidak ingin segera menikah.

Menikah Itu Banyak Tekanan, Single Juga Tertekan, Tapi Beda Value

Padahal, yang namanya menikah itu bersama dalam senang dan susah. Begitu pula hidup sendirian, kadang happy kadang sedih. Di dunia kerja juga sama. Ada kalanya asyik, di lain waktu bisa toxic.

Ketika sama-sama tertekan -baik single maupun nikah- maka orang menikah justru mendapat value tambahan yang banyak, yang tidak didapatkan orang yang masih single.

Dalam pernikahan, ada pahala menafkahi, pahala sabar bersama pasangan & anak, pahala shadaqah (dari istri ke suami & anak), pahala kemesraan, ada pahala mendidik anak, pahala berbuat baik kepada mertua-ipar, dan masih banyak lainnya.

Ini semua tergantung niat kita untuk apa menikah. Jika diniatkan sebagai ibadah, insya Allah banyak pahala.

Baca juga: Testimoni, Anak Punk Ikut Taaruf

Alasan Kedua

Semakin banyak informasi yang dicerna kadang membuat orang jadi kepikiran. Kita jadi overdosis informasi. Banyaknya kabar perceraian menimbulkan kekhawatiran. Padahal banyak konten pacaran tapi penikahan justru menurun.

Dulu, sebelum ada medsos, yang kita tahu hanya dari berita resmi televisi atau koran yang sudah melalui sensor. Kini, urusan privasi orang lain -terutama selebritis- cepat terekspos tanpa sensor.

Itu semua adalah cermin buruk. Padahal, cermin indah masih banyak di sekitar kita, hanya saja kita kurang mengamatinya.

Cermin indah pernikahan masih banyak di sekitar kita dan layak kita ambil pelajarannya. Bisa dari orang terdekat kita, bisa juga dari orang jauh. Tergantung kita, mau melihat di cermin buram atau bening.

Banyak konten pacaran tapi penikahan justru menurun | Alasan ketiga

Gen Z dan Milenial kurang tertempa dalam kehidupan nyata. Karena, semuanya serba mudah. Akses apapun bisa dari ponsel. Mau kerja bisa pakai ponsel, baca berita, naik taksi/ojek, beli makanan, beli pulsa, bicara dengan teman, nonton film, bahkan cari jodoh. Serba online dan serba mudah.

Kemudahan-kemudahan itu tidak selamanya positif. Akibatnya, orang jadi rapuh. Tidak terbiasa dengan gerak fisik dan kesulitan di dunia luar. Padahal, orang menjadi tangguh disebabkan terbiasa dengan kesulitan dan tantangan.

Gen X dan Baby Boomers sudah terbiasa kesulitan yang menguras kekuatan fisik dan ditempa dengan kendala.

Dulu harus kemana-mana jalan kaki atau sepeda gowes atau naik angkutan umum. Dulu beli ini itu harus keluar rumah. Harus pakai mesin ketik dan kertas, perlu printer untuk sekolah dan kuliah, dst.

Ketangguhan itu menjadi bekal penting dalam pernikahan. Dan menjadi kuat terhadap problem yang menerpa dan tetap berusaha menjadi solusi baik, tidak gampang menyerah. Tidak mudah kepingin pisah.

Baca juga: Testimoni Taaruf, Nyaris batal nikah jelang hari H karena problem keluarga

Alasan keempat

Jika mengacu pada warning Nabi Muhammad saw, akhir zaman seperti sekarang ini munculnya fenomena: lebih mudah berbuat maksiat daripada taat. Lebih banyak orang berlaku khianat daripada sikap amanah.

“Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Bukhari).

Orang yang memegang teguh iman dan mengamalkan agama dengan kuat selalu banyak tantangannya. “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya ibarat menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).

Pernikahan sebagai jalan suci menjadi tampak menakutkan, sehingga muncul ungkapan: marriage is scary. Lalu enggan menikah namun justru terseret ke arah maksiat (pacaran, zina, atau prostitusi).

Alasan kelima

Gen Y dan Z terlanjur mengandalkan perangkat kekinian. Akibatnya, interaksi sosial makin berkurang. Padahal dalam pernikahan mutlak diperlukan nasihat dari senior yang sudah berpengalaman dan bijak menyikapi problem keluarga dan kehidupan.

Agar lebih terarah, sangat dianjurkan untuk sering bersilaturahim dengan senior yang dikenal shalih sehingga kita mendapatkan nasihat baik.

Bukankah berakrab dengan orang shalih ibarat oase di tengah gurun. Wali Songo berpesan melalui syair Jawa: tombo ati ana lima ‘penawar (dari penyakit hati) ada lima macam.’ Salah satunya adalah berakrab dengan orang-orang shalih.

Baca juga: Testimoni Taaruf, Pernah trauma gagal Nikah Lalu Bisa Move On

Foto: pixabay

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *